Saturday, January 19, 2013

Menikah dengan Duda

Siang terik begini sebenarnya membuat kami malas keluar dari ruangan ber-AC, tetapi karena tidak ingin mengganggu kekhusyukan karyawan lainnya yang sedang berpuasa Ramadan maka kami putuskan untuk mencari makan diluar. Kebetulan saya yang sedang kedatangan tamu bulanan lupa membawa kotak bekal makan siang, makanan sisa sahur keluarga tadi subuh. Atas posisi tidak menguntungkan ini mba Ita memanfaatkan saya, meminta menemaninya menghabiskan bekal makan siangnya sambil menyeruput teh manis lemon hangat di kantin koki yang tidak jauh letaknya dari kantor. Mba Ita, Puspita nama lengkapnya adalah sekretaris tempat saya bekerja. Yang mengejutkan, mba Ita ternyata lebih tua sepuluh tahun umurnya dari saya. Mungkin jika sebelumnya saya tidak mengetahui dia sudah bersuami dan punya anak bayi, saya akan mengira mba Ita masih single. Parasnya cantik, halus kekanakan dengan body badan yang sintal jauh dari kesan ibu-ibu.

Karena ruang kerja yang berbeda, kami jadi jarang berbicara banyak, paling hanya pada saat-saat seperti ini yang memungkinkan saya lebih mengenal mba Ita melalui percakapan ringan. Selebihnya saya mengetahui cerita-cerita tentang mba Ita dari teman-teman seruangan. Teman-teman seruangan saya yang kebanyakan adalah ibu-ibu muda hobi bergosip. Saya yang masih terbilang anak baru, baru bekerja empat bulan di kantor ini, senang-senang saja mendengar ibu-ibu muda itu bercerita mengenai semua kisah karyawan kantor. Lebih-lebih karyawan wanita. Pasti cerita mereka bisa lebih berapi-api lagi yang kadang membuat saya merasa geli sendiri. "Ini cerita apa betul-betul dialami oleh si korban gosip? Jangan-jangan pada gilirannya saya juga akan diceritakan seperti ini" mengikik dalam hati. Cerita mengenai mba Ita adalah yang paling banyak dan paling sering dikisahkan oleh ibu-ibu itu. Entah, saya seperti melihat ada banyak kecemburuan mereka pada mba Ita. Mungkin sudah hukum alam pula, wanita tidak sedang melihat wanita cantik lainnya ada disekitarnya karena akan menimbulkan perasaan terancam yang kadang menimbulkan persaingan. Saya pernah melihatnya, bahkan pada ibu dan anak perempuannya.

Dari cerita-cerita mereka saya jadi tahu mba Ita yang cantik itu menikah dengan duda. Menurut ibu-ibu muda yang hobi menggosip itu, sebelum menikah dengan duda mba Ita pernah berpacaran dengan lelaki single, seorang anak bupati desa yang telah dipacarinya lebih dari lima tahun. Anak orang berada. Kemudian tanpa berita putus yang tidak jelas dan tidak diketahui semua orang di kantor, mba Ita menyebar undangan pernikahannya dengan pria lain. Ibu-ibu yang mengira mba Ita akan menikah dengan pacar kayanya itu tentu dibuat syok semua, apalagi mereka sudah membayangkan adegan yang persis seperti kisah putri dan pangeran. Atas keputusan mba Ita itu saya melihat ada kekecewaan pada kerut kening ibu-ibu itu ketika bercerita.
"Saking tajirnya nih ya wid, mobilnya bisa ganti dua kali seminggu! Emm.. mengkilap semua lagi" dengan semangat pejuang mba Rini menjelaskan hal itu kepada saya.

"Blackberry yang sekarang di pakai Ita juga dari mantannya kali! Kan dia yang pertama kali pakai blackberry disini" timpal mba Asih tidak mau kalah.

"Kadang nih ya, setiap pagi sebelum dia menikah dengan si duda itu, saya masih sering pergokin mereka cipokan didalam mobil!" Wati menambah-nambahi dengan tidak kalah Hotnya.

Selebihnya mereka berlomba-lomba story telling kepada saya mengenai dongeng mba Ita. Mulai dari konflik mba Ita yang tidak jadi menikah dengan pria berada itu, sampai segala spekulasi mengenai hubungan mba Ita dengan suaminya sekarang.
Mba Ita memang penggemar manis-manis, teh manis lemon hangat di depannya sudah mau habis dua gelas.
"Mba yang masak ya?" tanya saya basa-basi melihat kotak makannya.

"Bukan, ibu mertuaku. Aku gak pernah sempat masak pagi wid, bayangin aja dari Bogor kesini? Untung ibu mertuaku baik" balasnya bangga.
Mba Ita yang kalau berbicara lembut sekali ini dengan irama yang enak didengar, agak kekanakan bunyinya. Persis seperti keponakan saya yang sedang bercerita mengenai mainan barunya, membuat nyaman dikuping pendengarnya. Rasanya saya tidak canggung lagi dan seperti sudah kenal dekat dengan mba Ita saat ini. Orangnya asyik dan sangat terbuka. Maka akhirnya saya beranikan diri untuk memulai percakapan lebih dalam lagi. Saya bertanya banyak hal, mulai dari keluarganya, pekerjaan ayahnya, pekerjaan suaminya dan segala hal mengenai anaknya yang baru berusia tiga belas bulan yang sedang diasuh oleh ibu mertuanya. Ternyata baru saya ketahui kalau mba Ita wanita cerdas, dia lulusan S2 Hukum pada Universitas Negeri di Jogja. Terlihat dari cara dia menyampaikan segala gagasannya, mengenai hidup, mengenai keluarga dan wanita. 

"Mba pernah menyesal menikah di usia tua?" atas pertanyaan saya satu itu dia bahkan tidak merubah ekspresinya, tersenyum dan tetap manis sambil menjawab.
"Gak pernah tuh wid, aku happy aja sih. Justru hal yang agak aku sesalkan ketika menikah diumur tiga puluhan adalah tulang punggung ibuku. Kasihan dia sudah tidak kuat menopang cucunya lama-lama" Tawa mba Ita lebar, mempertontonkan isi mulutnya.
Kemudian dia menceritakan segala hal mengenai alasan mengapa dia telat menikah termasuk segala hal mengenai mantan kayanya yang sudah saya dengar melalui ibu-ibu satu ruangan. Mba Ita pada usia muda terlalu menikmati hidupnya. Kala itu dia masih bekerja sebagai sekretaris direktur di sebuah perusahaan BUMN besar. Setiap minggunya pasti ada saja amplop berisikan uang tidak sedikit, tersusun rapi pada meja kerjanya. Mulai dari amplop ucapan terimakasih client karena sudah dibuatkan schedule pertemuan dengan atasannya, sampai uang-uang tidak jelas yang diberikan langsung dari bosnya. "uang untuk malam mingguan" timpal bosnya. Entah uang itu berasal dari mana, yang mba Ita tahu itu uang panas. Uang yang gampang sekali dikeluarkan, dinikmatinya untuk berbagai kesenangan. Mba Ita hobi belanja sampai jungkir balik, hobi traveling kesana kemari, menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Dengan kesibukannya yang seperti itu bukan berarti tidak ada orang yang dia kasihi. Dan ternyata, dari ceritanya saat ini sebelum menikah mba Ita memang pernah berpacaran lama. Berpacaran dengan pria sukses yang sibuk. Dosen di perguruan tinggi internasional merangkap pengusaha real estate. Persis sama seperti yang diceritakan ibu-ibu penggosip di ruangan kerja. Orang tua pacarnya juga tak kalah sibuk, pemimpin daerah satu kotamadya. Karena hiruk pikuk kesibukan pacarnya itu, jangankan dikenalkan kepada kedua orang tuanya, bertemupun mereka jarang. Saya menyimak dengan tenang setiap cerita mba Ita, karena saya sebetulnya senang melihat dia yang mendominasi percakapan kami. Sambil tetap terlihat belum mengetahui apa-apa mengenai mantan pacarnya itu, saya menimpali sesekali, membuat tanda ceritanya sangat menarik hati.

Mba Ita menceritakan dengan seru kisahnya dengan mantan pacarnya itu. Menjalin hubungan yang sudah sangat lama bukan berarti mba Ita belum pernah menanyakan tentang status hubungan mereka. Satu kali, dua kali, tiga kali dan jawaban yang didapat mba Ita masih tetap sama. Jawaban penolakan dengan berbagai alasan yang membuat mantan pacarnya itu belum dapat memfokuskan dirinya pada sebuah pernikahan. Bisnis, rencana studi S3, dan kegiatannya dikampus sebagai pengajar, semuanya itu yang pada intinya memperjelas bahwa belum ada waktu untuk memikirkan resepsi perkawinan.

"Aku disuruhnya menunggu sebentar lagi saat itu. Sebentar lagi tanpa kejelasan" lirih mba Ita.

Akhirnya mba Ita memutuskan untuk tidak lagi bergantung pada pacarnya, hubungan putus sambung sering mereka lalui. Dan memberikan kesempatan mba Ita untuk mengenal sosok lekaki lainnya. Menjalin hubungan dan dekat dengan lelaki lainnya tanpa peduli apakah pacarnya itu tahu atau tidak.

"Dulu, waktu umurku dua puluh sembilan sempat pengen menikah wid! Sama cowok lain, bukan dia yang sibuk itu. Sebulan lagi resepsinya diadakan, eh batal. Aku yang kurang ajar, aku yang plin-plan dan bilang ke Bapak kalau bukan dia orangnya. Bapak sih terus saja meyakini aku karena menurutnya kurang sopan juga membatalkan pernikahan mendadak. Tapi bapak yang sabar akhirnya menyerah juga sama kengototan anak bontotnya yang selalu menyusahkan ini"

"Waktu menjalin hubungan dengan yang lain aku masih juga menjalin hubungan dengan dia yang sibuk itu, tetapi hubungan kami sudah tidak sehat. Mungkin karena aku sudah nothing to lose ya, dan diapun gak pernah membuat pergerakan apa-apa."
"Sampai saat suamiku yang sekarang ini datang menawarkan keseriusan. Keseriusan yang tadinya membuatku takut dan gentar. Lucunya, dia bahkan minta ijin terlebih dulu apakah keseriusan dan segala pendekatannya itu membuatku nyaman. Aku melihatnya, duda beranak dua itu, lain daripada pria yang pernah masuk kehatiku selama ini wid.
"Tiga bulan jalan akhirnya dia melamarku"
"Antara percaya dan tidak akhirnya aku menerima lamaran dia. Dan seminggu sebelum lamaran, aku menghubungi pria sibuk itu, memberi kabar bahwa seminggu lagi aku bertunangan"
Saya masih melongo mendengar cerita mba Ita tetapi dia terus melanjutkan sambil sesekali menyeruput teh manis lemon hangatnya.

"Dia yang sibuk itu tentu saja kaget luar biasa. Menyuruh aku membatalkan pertunangan dengan duda beranak dua saat itu juga. Dia menjanjikan akan memboyong kedua orang tuanya kehadapan kedua orangtuaku hari itu, asal pertunangannya bisa dibatalkan."

"Hmm...  Egois sekali" timpalku

"Yes, where have you been all this time?" mba Ita hanya tersenyum kecut, mungkin gelas ketiga teh itu yang agak kecut.

"Dia bilang kepadaku, whatever happens someday you'll be my wife. Tapi aku sudah gak berani lagi bermimpi dengannya wid. Dan antara sadar dan tidak sadar akhirnya aku memutuskan menikah dengan suamiku sekarang. Aku masih ingat bagaimana teman-teman di ruanganmu itu mengatakan kalau aku tolol, menolak pria kaya yang sudah jelas masa depannya. Dihadapanku mereka memijit-mijit kalkulator, menghitung-hitung kira-kira berapa kerugian yang aku dapatkan ketika menikah dengan suami yang hanya kepala cabang bank dibanding dengan anak bupati yang punya penghasilan segudang"





"Hehehe" kekeh mba Ita.
"Keyakinan wanita bisa memindahkan pegunungan loh wid"
"Lalu, Apa yang membuat mba Ita yakin untuk menikah dengan duda?" ekspresi saya sudah berubah menjadi agak memelas, semoga mba Ita tidak menyadarinya.

"Hal yang membuat aku yakin mungkin saat dia berkata "tolong jangan ditunda lagi resepsinya, aku takut kamu berubah pikiran." permintaannya itu yang membuat aku hampir menangis dan jatuh cinta. Hal yang sempat aku impikan malah datang dari pria lain dengan sosok sederhana. Sebuah keyakinan pria sederhana yang tulus yang sanggup meruntuhkan segala kesombongan pada diri saya ini" Ekspresi mba Ita terlihat jauh sekali berbeda, kali ini lebih dewasa dan sangat wanita.
"Lalu apakah perasaan itu sama? Maksudku, dari cerita mba Ita sepertinya mantan super sibuk mba itu yang paling berkesan dihati. Emm... Apa mba Ita bahagia?" Atas pertanyaan ragu-ragu saya itu mba Ita hanya tersenyum, senyum lebarnya cantik sekali dan tetap kekanakan. Mba ita tersenyum sambil mengelus perutnya.
"Aku hamil anak kedua loh, sudah tiga bulan"
 
-FINE-


Agustus 2012, Gudang Peluru
Pada senyum dan semangat yang cantik

11 comments:

  1. nice,,,,
    bagus ceritanya, mbk.

    ReplyDelete
  2. saya punya cerita tp nulisnya msh jelek,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. ditulis aja terus, kalau ada pujian itu bonus :D
      ini kalau mau ada link yg enak dibaca buat belajar:
      http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000011310504/forum-menulis-fiksi/
      http://www.kampungfiksi.com/search/label/tips%20menulis

      Delete
  3. Ahhh keren >.< jodoh itu bisa gak ketebak ya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, diluar rencana dan usaha adalah tanda tanya ^^

      Delete
  4. makasih ya mba,,, bwt infonya?

    ReplyDelete
  5. Saya ada pengalaman mengenai hal ini.. time sekolah dulu2.

    .. saya faham maksud awak... teruskan usaha... penulisan dan gaya bahasa yg baik.
    . tahniah...

    Here is my page - Tips Untuk Isteri

    ReplyDelete
  6. gila kak keren bets :D pengalaman hampir sama hehe

    ReplyDelete
  7. Aku diajak nikah juga sama duda anak 2 , masih takut masih bingung, umurku 19 tahun

    ReplyDelete
  8. bagus banget siihhh :( , nasibb lagi pacaran sm duda.. baca bginian, pgn mewek deh... pacarku blg "ya km boleh kok bandingin aku sm mantan2 km, yang mana yg lebih serius" hiks...

    ReplyDelete