Friday, May 17, 2013

Bloggers Block, Ben dan Rapid Fire Question

Pada perjalanan kerja menuju tol Cipularang saya coba menulis postingan ini. Dengan cuaca dan suasana hati yang sama bagusnya, saya akan menjawab tantangan Rapid Fire Question yang masuk ke tab mention twitter subuh dini hari tadi dari blogger tengil satu ini http://benagustian.blogspot.com/2013/05/rapid-fire-question.html, panggil saja dia Ben. Rapid Fire Question, menurut Ben, adalah menjawab pertanyaan berantai yang menjuntai-juntai dan menyebarkan pertanyaan itu kembali ditambah dengan pertanyaan pribadi kepada beberapa orang pilihan lainnya.

Oke, Ben. Berhubung tantanganmu ini jadi pemecah postingan blog saya di bulan Mei, terimakasih, saya jadi  punya bahan tulisan walau dipaksakan. Sayangnya saya tidak berniat untuk meneruskan pertanyaan ini kembali kepada blogger lainnya. Kasihan mereka sudah sulit hidupnya makin dipersulit lagi dengan pertanyaan sulit ini (Halah! Alasan malas).

Here the question:

1. Menambah atau mengurangi timbunan (buku)?
Karena yang didalam kurung itu buku, maka saya akan pilih menambah timbunan buku. Saya kurang suka kata timbunan. Sesuatu yang ditimbun sifatnya tidak berarti apa-apa, tidak dipergunakan kembali setelah selesai dipakai atau didiamkan pada satu tempat tanpa perlakuan khusus. Jadi, saya akan pilih menambah timbunan buku.

2. Pinjam atau beli buku?
Beli. Sekarang ini saya jarang meminjam buku kecuali dengan teman dekat, disamping waktu yang saya miliki tidak sebebas ketika saya masih jadi mahasiswa kost-kostan dengan kantong pas-pasan yang setiap sore hobinya mondar-mandir ke tempat penyewaan buku depan kampus dibanding mondar-mandir ke Lab telkom untuk menyelesaikan proyek tugas akhir.

3. Baca buku atau nonton film?
Baik baca maupun nonton sama asyiknya, tapi waktu yang saya habiskan untuk membaca lebih fleksibel dari pada saya harus nonton film ke bioskop, membaca bisa dimana saja.

4. Beli buku online atau offline (toko buku yang dindingnya bisa disentuh)?
Jika poin utamanya membeli, saya lebih suka membeli online daripada offline. Biasanya buku yang saya inginkan sudah dibuat list dulu, dan cuma di toko buku online yang bisa memberikan diskon minimal 15% setiap saat. Lumayan kan kalau ada pembelian lebih dari satu?

5. (Penting) buku bajakan atau original?
Ini penting! Jangan pernah beli buku bajakan. Tahu berapa royalti yang didapat penulis dari buku yang mereka terbitkan? Hanya 10% dari harga buku. Jadi kalau buku yang berhasil dicetak penerbit dijual seharga Rp. 40.000, maka royalti untuk penulisnya hanya Rp. 4.000 saja (So, darimana penulis-penulis  kece itu dapat duit kalau karyanya dibajak broh?) Lagipula saya pribadi juga tidak mau kecewa dengan lembaran kertas yang kualitasnya jelek, halaman yang seringkali terlongkap, cacat, sobek dan sebagainya jika membeli buku bajakan.

6. Gratisan atau Diskonan?
Freidman said, "There's no such thing as a free lunch." Are you believe with something for free?. I pick it if there is an option.

7. Beli pre-order atau menanti dengan sabar?
Menanti dengan sabar, ada sensasinya.

8. Buku asing terjemahan atau lokal?
Ini pertanyaan paling sulit setelah tujuh terlewati, karena tidak ada pilihan untuk tidak memilih juga. Oke... Hmmm... *sambil menatap lemari buku* ternyata saya lebih banyak punya buku terjemahan.

9. Pembatas buku penting atau biasa saja?
Pembatas buku buat saya adalah bonus yang menyenangkan apalagi kalau bentuknya kreatif. Penting atau tidak? Lebih penting isi bukunya.

10. Bookmark atau bungkus chiki?
Pertanyaan terakhir ini absurd. Saya pilih bookmark saja. Bookmark situs-situs keren maksudnya. Bungkus chiki saya kurang suka kecuali isinya.

Hoore. Done! No?
Masih ada lima pertanyaan tambahan lagi:

1. Puisi atau pantun?
Saya senang sajak apa saja sejak SMP, pantun, puisi, gurindam 12, soneta, dan kawan sejenisnya yang berirama. Pada level spontanitas, saya belum bisa membuat sebuah pantun, mereka begitu special, lucu dan menggigit. Saya pilih pantun.

2. Ditolak penerbit atau ditolak gebetan?
Ditolak penerbit adalah kejadian atas ditolaknya karya yang sudah saya buat. Sedangkan, ditolak gebetan  merupakan kejadian tertolaknya diri saya yang (sebisa mungkin) tidak saya buat-buat. Ditolak penerbit bisa menjadi cambuk buat saya agar lebih semangat menulis, kebalikannya ketika ditolak gebetan.

3. Buku fiksi atau Biografi?
Kenapa senang sekali buat soal buku yang begini sulit ya? Nanti, saya pikirin dulu jawabannya.

4. Makan telur busuk atau makan keju belatungan?
Telur busuk setidaknya tidak dihinggapi belatung (dalam pertanyaan ini).

5. Follower itu penting atau biasa saja?
Ketika membuka twitter yang saya perhatikan adalah tulisan-tulisan following. Menjadi lebih atraktif ketika tulisan kita diapresiasi orang banyak. Kalimat pertama lebih penting.

Sekian jawaban dari saya. Ben, semoga kamu tidak salah lagi menilai saya dengan kalimat 'pinter banget'. Karena kasihan orang-orang yang sejatinya 'pinter banget' itu, disejajarkan dengan saya, si kepala bantal yang mudah tidur hanya dengan sebuah pemandangan awan manis seperti kembang gula ini. Good Nite!



Tol Cipularang, 16/05/2013 10:58

Friday, April 26, 2013

Menulis

Adakalanya- saya sangat ingin sekali menulis, tapi tidak tahu apa yang musti saya tulis.

Menyuarakan hati secara lirih-lirih dengan goresan hitam pensil tumpul. Namun, akal yang secara kebetulan berjenis kelamin pria menjadi masturbasi mendengarnya.
Saya tidak ingin merasa menjadi pendosa setelahnya.

Saya berteriak saja.
Mengharapkan wajah-wajah pengertian menoleh acuh ke kanan pada bising tinta kabur. Harapan saya tidak terkabul. Mereka melipir kekiri, lari, menghindari paragraf lengking idealis jahil.

Saya lelah.
Sekarang saya ingin telanjang. Memfilmkan buah pikiran pada dinding putih lebar, walau mungkin setelahnya saya kedinginan tanpa penutup pakaian. Barangkali, bikini two pieces atau lingerie warna-warni masih cocok untuk kulit ide tipis yang ekstra sensitif.

Lalu hal itu tertulis, demikian.

Sunday, April 14, 2013

Kosong

Tenggorokan ini rasa kerontang
Tolong beri aku minuman
Tolong pilihkan satu yang segar
Ah! mengapa gelasnya tidak cukup besar
Punduk ini terlalu lebar

Dasar sombong
Sudah ku bilang perutmu hanya kosong
Dua gelas buat kepala melompong
Jalan saja sudah loyong

Kosong?
Itu saja yang ku cari
Kepala ini sudah kelebihan isi
Ke lubang kosong perlu ku tuang
Lihat! ringan kaki serasa terbang


Beergarden, 050413

Thursday, April 11, 2013

Tentang Cidera yang Disembuhkan oleh Kata-kata

Pada pelajaran mengenai anatomi tubuh, guru Biologiku pernah berkata "tulang ekor dan umbai cacing (usus buntu) adalah organ tubuh yang tidak mempunyai fungsi", dengan kata lain tidak berguna. Lantas mengapa dengan isengnya Tuhan ciptakan mereka kalau tidak berguna? Adakah hal yang sia-sia yang sudah diciptakan Tuhan? Pertanyaan seperti ini yang sering menyita waktu berpikir saya. Pertanyaan sepele yang saya mau ada jawabannya saat itu juga. Atau ingatan akan pertanyaan sepele ini tidak mau lepas dari kepala. 

Sampai saat ini saya masih ingat perkataan guru biologi itu, syukurnya dengan sudut pandang yang berbeda, saya menemukan jawaban yang versi saya. Tulang ekor dan umbai cacing adalah organ tubuh yang tidak bekerja, tidak berguna, katakanlah demikian. Kau akan stop mengatai mereka, sampai... Salah satu dari mereka mengalami cidera, kesakitan. Maka bukan organ tubuh yang tidak berguna tadi saja yang merasakan sakit, tapi juga seluruh tubuh. Berapa orang yang menderita perutnya, mulutnya, kerongkongannya kehausan tapi dilarang untuk minum dan berharap bisa kentut lekas-lekas setelah operasi usus buntu? Atau berapa orang yang tidak nyaman tidurnya, punggungnya, rusak percaya dirinya, karena tulang ekornya miring dan perlu banyak fisioterapi untuk meluruskannya kembali?

Bukan, saya bukan sedang terkena usus buntu ataupun kelainan tulang. Hanya cedera ringan pada otot tulang belakang yang mampu melumpuhkan aktivitas saya selama dua hari. Ringan, sampai-sampai yang bisa saya lakukan hanya menangis pada jam dua pagi. Ringan, yang membuat saya bersyukur teramat dalam bukan usus buntu atau kelainan tulang yang sedang menimpa badan. Ringan, semoga yang berat-berat dapat dilalui oleh mereka dengan ikhlas.

Tulang belakang, kamu bukan menjadi hal yang sepele lagi di kepalaku sekarang.

Tentang cidera itu, yang saya tanggapi secara berlebihan (saya memang selalu berlebihan dalam menanggapi penyakit. Ah, bukan penyakit saja, terhadap segala halnya saya selalu menyiapkan resiko yang paling buruk) ternyata cepat sekali tersembuhkan, mungkin karena cederanya ringan saja, trauma otot, kejang otot, muscle strain dan nama lain yang diberikan kepadanya membuat saya manja dan betah berlama-lama dalam keajaiban kata:

*Ibu yang selalu bilang pada setiap keluhan sakit saya, penyebabnya adalah diet dan kurang makan. Padahal bukan. Dilontarkannya lagi keluhan mengenai buruknya pola makan saya sambil mengelus-elus daerah tubuh yang sakit dengan balsem seadanya. Ibu, jarang melontarkan kata-kata manis tapi saya selalu suka dielus. Terimakasih, Mak.

*Sahabat saya yang seorang perawat tapi bukan perawat. Dialah orang yang selalu saya adukan ketika sakit. Dan dia pulalah yang bisa meredakan kekhawatiran berlebihan saya dengan pengetahuan kedokteran dan obat-obatan. Terimakasih, Rani.

*Percakapan sepele yang membuat saya terbahak atas komentar apa saja mengenai hal apa saja dalam dua kepala yang berbeda. Kiriman gambar ini contohnya: foto keluarga besar dengan orang tua cantik-ganteng sempurna yang memiliki tiga anak, masih bayi, balita dan belum dewasa benar, yang kurang mirip dengan orang tuanya. Pada foto itu tertulis "PLASTIC SURGERY you can't hide it forever". Terimakasih hiburannya, Icha.

*Jawaban santainya atas hasil rongent yang melegakan sekaligus meyakinkan saya kalau tidak terjadi apa-apa dengan tulang ekor. Terimakasih, Dokter Ari, Pramita Lab, Kebon Jeruk.

*Seseorang yang satu-satunya ada dipikirkan saya sekiranya dapat dimintai bantuan saat itu. Serta, dua setengah piring roti yang saya habiskan dengan rakus total membuat saya lupa kalau pantat sedang cidera. Terimakasih, Mas.

*Pesan yang menanyakan kehadiran saya kembali, karena ruangan kantor terasa sepi ditinggal dua hari. Mungkin sekedar basa-basi atau memang kehadiran saya berarti. Diperhatikan seperti itu membuat saya merasa lebih. Terimakasih, Mbak Rike, mbak Nita, kak Leni.

*Tulisan yang awalnya saya minta atas laporan mengenai workshop di Salihara Tentang Perempuan Pencipta Narasi yang tidak bisa saya hadiri karena sedang cidera, ini membuat terharu. Walau isinya bukan mengenai workshop, postingan ini tertuju buat saya ,mendoakan saya semoga lekas sembuh. Terimakasih, Ikafff. :')

Tuesday, April 2, 2013

Sebut Saja Dia Sahabat

Dulu anak saya sering bertanya, "waktu usia sekolah, kakak paling suka berada di SD, SMP, atau SMA?". Saya mengerti pertanyaan itu timbul karena dia sangat menikmati kehidupan SMP-nya dan membandingkannya dengan kehidupan yang saya punya dulu. Pertanyaan itu juga timbul karena dia takut berpisah dari kekompakan teman-teman sekelasnya, takut tidak bisa lagi berprestasi seperti yang sudah diraihnya saat itu, dan takut kehilangan segala aktifitas yang memenuhi kehidupan bahagianya jika kelak masuk SMA. Karena itu saya mencoba menjawab pertanyaannya secara diplomatis dan berharap dia menikmati semua jenjang kehidupan sekolahnya tanpa kekhawatiran-kekhawatiran yang belum terjadi. Tapi ternyata saya tidak sediplomatis itu, dan anak saya selalu lebih pintar mencari tahu. Akhirnya saya katakan juga kepadanya bahwa saya amat menikmati kehidupan belajar waktu di SMA dulu. Jawaban itu bukan semata-mata ingin membesarkan hatinya bahwa kehidupan SMA kelak akan lebih bahagia, melainkan ternyata hal-hal yang membuat bahagia anak saya ketika dia di SMP terjadi waktu saya SMA dulu. Dia bertanya alasan kepada saya, "kenapa?"

Karena SMA adalah saat dimana saya menyukai matematika untuk pertama kalinya.

Karena SMA adalah saat dimana saya bisa berkompetisi secara menyenangkan.
(menjadi siswa yang paling rendah peringkatnya dalam satu angkatan tentu membuat stress. Lalu peringkat 10 besar atau 15 besar yang saya pertahankan sampai lulus menjadi luar biasa membanggakannya dibanding peringkat 1, 2 atau 5 pada jenjang sekolah sebelumnya)

Karena SMA adalah saat paling mengasyikan memiliki banyak teman dalam satu kesukaan.
(menemukan hobi, minat dan potensi diri rasanya seperti saya menemukan diri sendiri. Maka kalau ditanya orang mengenai cita-cita, saya akan dengan mudah menjawabnya. Terlepas dari apakah cita-cita saat itu menjadi kesampaian atau tidak saat ini)

Terakhir, hal lain lagi untuk pertama kalinya, saya memiliki seseorang yang betul-betul mengerti siapa saya. Sebut saja dia sahabat.

*Seseorang yang bukan sempurna, yang tanpa peduli apakah dia mengganggapmu begitu sepesial juga, yang penting dia tetap ada.

*Seseorang yang bisa tahan berlama-lama ada disampingmu, melakukan apa saja, membicarakan apa saja dari pagi sampai senja. Dan terus berulang keesokan harinya tanpa kenal bosan.

*Seseorang yang pertama kalinya mengejutkanmu "hei, tatap mata saya ketika berbicara!".
kemudian hal itu bukan menjadikanmu takut melainkan perasaan aman ternyata ada orang yang tanpa dijelaskan sudah memahamimu lebih dulu.

*Seseorang yang begitu sama mimpinya.

*Seseorang yang bahkan satu halpun tidak bisa kau tutupi darinya.

*Seseorang yang membuatmu ngeri membayangkan kehilangan hal-hal diatas tanpanya di kemudian hari.

Lalu  ketika sampai saat itu kalian menangis seperti kekasih ditinggal mati. Ya, kami menangis. Padahal cuma jarak yang membuat wajah kami tidak saling bersitatap, cuma jarak yang memberikan kesempatan kepada kami untuk menemukan teman baik lainnya, memberikan kesempatan kepada waktu untuk menjadikan mereka sahabat. Cuma jarak yang tidak pernah memberikan kami gelar kawan lama. Cuma jarak yang pelan-pelan menunjukkan kepada kami ada hal yang memang tidak tertahan selamanya.


Welcome home, Fany.




Kebayoran Lama, 300313

Thursday, March 21, 2013

Wisata Goa Pindul, Gunung Kidul

Sesuai janji saya pada postingan sebelumnya untuk membuat judul khusus "wisata di Goa Pindul"
Keterangan mengenai Gua Pindul banyak kami dapatkan melalui bapak-bapak dinas pariwisata yang kebetulan bertemu sewaktu kami beristirahat dan makan siang. Menurut saya mereka sangat humble dengan tidak membuka kedok pekerjaan sebelumnya dan mengajak ngobrol para wisatawan yang berkunjung (khususnya wisatawan diluar Jogja) untuk ditanyai testimoninya, kritik dan saran mengenai tempat wisata tersebut, lalu berterima kasih untuk meluangkan waktu mengunjungi Gunung Kidul. "Kami dari dinas pariwisata dan mohon untuk dibantu promosikan mengenai Goa Pindul ini pada teman lainnya", begitu kata mereka pada akhir pertemuan kami. "Dengan senang hati pak, akan saya tulis", jawab saya dalam hati. Syukur-syukur ada 100 orang lebih yang pergi kesana setelah membaca postingan ini, hehehe.

Wisata Goa Pindul ini masih terbilang baru, merupakan program dinas pariwista Jogjakarta yang membuka lahan-lahan potensial pariwisata demi kemajuan tiap-tiap daerah. Bekerjasama dengan masyarakat sekitar dan mahasiswa perguruan tinggi, maka di daerah Gunung kidul dibukalah lahan wisata baru pada tahun 2010. Tidak hanya Gua Pindul yang dapat kita jelajahi disini, ada juga body rafting menelusuri sungai Oyo selama kurang lebih satu setengah jam, off road dengan mobil, dan lainnya yang dibagi kedalam pilihan paket-paket wisata. Berikut paket-paket (seingat saya) yang bisa kita pilih disana:

Paket A : Body Rafting menelusuri sungai Oyo menggunakan ban, Rp.45.000
Paket B : penelusuran Gua sempit yang harus dillalui dengan cara merangkak, Rp.30.000
Paket C : penelusuran Gua Pindul diatas sungai yang harus dilalui menggunakan ban, Rp.30.000
Paket D : Off road (maaf, saya lupa harganya)

Rombongan kami memilih paket A dan paket C sekaligus.

Wednesday, March 20, 2013

Gelombang Karimun Jawa Membawa Kami ke ...

Jogja - Semarang, 9-12 Maret 2013


Harusnya Judul Postingan Blog kali ini, yang saya sudah buat draftnya dari jauh hari sebelum keberangkatan adalah "Karimun Jawa". Sudah terbayang-bayang di kepala kami semua pemandangan laut dan langit yang beradu biru, pulau kecil-kecil yang memesona, bibir pantai dengan sunrise dan sunset yang lezat, dan penakaran anak hiu yang seru, tapi... Itu semua urung sudah. Berhubung tanggal yang kami rencanakan untuk menyebrang ke pulau Karimun Jawa dari pelabuhan Jepara ditiadakan. Walhasil untuk menutupi kekecewaan acara liburan, kami memutuskan melarikan diri ke Jogja dan sekitarnya.

Kami tiba di dermaga Jepara kurang lebih pukul 10 pagi tanggal 9 Maret, hari itu sabtu yang cerah walau memang cuaca hari-hari sebelumnya sangat buruk karena hujan terus, begitu juga cuaca yang ada di Jakarta. Pihak pulau juga mengatakan kepada kami kalau sampai hari kamis cuaca disana masih buruk maka uang muka akan di kembalikan, syukurlah hari jumat cuaca membaik walau pihak pulau belum memberi guarantee untuk bisa menyeberang pada sabtu paginya. Dengan harapan cuaca membaik, kami berangkat menuju semarang sabtu subuh. Dan ternyata memang bukan jodohnya, semua kapal tidak ada yang bisa menyeberang sampai tanggal 11 Maret karena gelombang laut bisa mencapai ketinggian 6 meter, begitu pihak BMKG menginfokan kepada semua orang yang sudah sampai di dermaga pagi itu. Kurang lebih ada 300 orang yang nasibnya sama seperti kami. Sedih? Iya. Tapi setidaknya kami dapat pelajaran berharga bahwa bulan yang bagus dan aman untuk menyeberang ke pulau atau wisata laut sejenis itu adalah sekitar April s/d September.

Karena tidak ingin buang-buang waktu, kami memutuskan untuk langsung loncat saja ke Jogja dari Jepara. Perjalanan kami yang dari awal adalah bandara Ahmad Yani, Semarang menuju Jepara, kemudian harus berbelok ke Jogja (melewati Semarang kembali) yang menghabiskan waktu sampai 7 jam lebih. Mati lemas di mobil terpulihkan ketika sampai Jogja malam harinya disambut oleh sajian teh hangat, camilan khas dan udara yang sejuk gerimis. Beruntung ada salah satu rumah saudara teman kami di daerah Sleman yang luar biasa baiknya menampung anak-anak manis putus asa ini. Terimakasih mbak Diah, tempatmu luar biasa! Kapan lagi bisa metik salak pondoh langsung dari pohonnya dan makan ikan langsung dari pancingan kolam di belakang rumah. Mantap!